Memiliki banyak follower kadang menjadi nilai prestis tersendiri.
Namun para pengikut ini memiliki beragam sifat, ada yang cuma sekadar
jadi penonton, ada pula yang aktif dan merajut interaksi dengan yang
difollownya.
Menurut Adrian Dayton, seorang pengamat dan penulis buku media
sosial, para follower ini terbagi atas 7 level. Berikut penjabarannya:
Level 1: The Bots
Follower model ini bisa dibilang sebagai level ‘terbawah’ dalam
urusan interaksi. Jangankan mengenal siapa yang difollownya, mereka
bahkan tak pernah menjalin interaksi atau bahkan malah menyebar spam alias postingan sampah.
Dayton pun menyebut follower tipe ini tak berguna, selain untuk sekadar menambah jumlah pengikut.
Level 2; The Sleepers
Sesuai namanya, The Sleepers dianggap sebagai follower ‘tukang
tidur’. Ia tidak pernah memposting apapun, selama karirnya di Twitter
paling cuma 10 kali berkicau. Namun ia tetap memfollow Anda, meski entah
berapa hari sekali/minggu log in ke situs 140 karakter itu.
Level 3: Word Searchers
Seorang Word Searchers bergerak berdasarkan biografi atau kesamaan
minat dari tweeps yang difollownya. “Misalnya, saya memposting soal
kegemaran bermain wakeboard. Dan tak berapa lama kemudian, saya sudah
difollow oleh perusahaan wakeboard,” tukas Dayton.
Follower tipe ini dinilai lebih berharga ketimbang dua tipe
sebelumnya. Sebab setidaknya, ia memiliki kesamaan minat dengan Anda.
Level 4: Readers
Sesuai tingkatannya, follower di level ini lebih menyenangkan.
Sebab ia merupakan tipe tweeps yang suka membaca postingan kicauan atau
blog Anda. Tak jarang pula, The Readers meretweet postingan dari yang
difollownya.
Artinya dengan kebiasaan yang dilakukan follower model ini juga dapat membuat Anda terkenal dengan aksi retweetnya.
Level 5: Engagers
Di level ini, follower tak sekadar membaca atau meretweet kicauan.
Namun juga sudah mulai menjalin interaksi. Anda sebagai yang difollownya
pun sebaiknya dapat membalas interaksi tersebut sehingga dapat terjalin
hubungan yang baik.
“Tak masalah jika mereka (follower jenis ini-red.) bersikap setuju
atau tidak dengan apa yang kita suarakan, yang paling penting mereka
telah menciptakan buzz,” tukas Dayton, dalam situsnya.
Level 6: Contacts
Setelah terjalin komunikasi, maka level selanjutnya adalah dengan
meninggalkan dunia maya untuk melangkah ke dunia nyata. Fase ini bisa
dimulai dengan kopi darat untuk sekadar makan siang atau kontak via
telepon.
Level 7: Friend
Ini merupakan level tertinggi dari suatu kontak antara pemilik akun
dengan followernya. Mereka dapat membentuk suatu hubungan yang lebih
bernilai di dunia nyata, meski berawal dari kicauan.
Hubungan yang dihasilkan bisa sebagai persahabatan, partner kerja,
ataupun sebagai klien. Ya, kemungkinan itu bisa saja terjadi di Twitter
yang dibatasi dengan 140 karakter.
“Ini pun kerap saya lakukan. Ketika singgah di suatu kota, saya
mencoba untuk bertemu dengan orang-orang yang saya kenal via Twitter,”
pungkas Dayton, yang juga seorang pengacara ini.
Lalu bagaimana dengan Anda, termasuk tipe follower seperti apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar